Selamat datang di Medan Plus
|
Anda akan mendapatkan informasi seputar HIV dan AIDS di website Medan Plus ini. Informasi di dalam website ini didapat dari berbagai macam sumber. Anda dapat mengambil atau mendownload informasi dalam bentuk Adobe PDF. |
Menu utama
| Halaman Depan |
| HIV & AIDS |
| HAM dan HIV/AIDS |
| Pencegahan bagi HIV+ |
| Infeksi Oportunistik |
| Pencarian Informasi |
Tepat waktu minum ARV
Di dukung oleh
| Methadone dan Kehamilan |
|
|
|
| Ditulis oleh positif | |
| Sunday, 15 February 2009 | |
Methadone dan Kehamilan October 13th, 2008 “Apakah Methadone aman untuk bayi saya?” ini adalah pertanyaan akan selalu ditanyakan oleh ibu hamil yang sedang dalam program rumatan Methadone. Ibu hamil yang sedang menjalani program rumatan methadone selama lebih dari 25 tahun terbukti tidak menunjukkan gangguan secara langsung terhadap cacat pada janin. Namun memang bayi yang dikandung akan memberikan beberapa efek samping sebagai efek dari terapi rumatan methadone tersebut. Efek yang paling sering muncul adalah ukuran lingkar kepala yang lebih kecil daripada ukuran rata-rata, berat bayi lahir rendah dan gejala-gejala putus obat. Sementara bayi tersebut lahir dengan kondisi tergantung pada methadone, maka bayi tersebut biasanya akan mengalami keterlambatan terhadap tumbuh kembang. Methadone bukanlah satu-satunya substansi yang dapat menyebabkan gejala-gejala tersebut. Mengkonsumsi rokok, penggunaan obat-obatan lainnya, perubahan biologis dan pola nutrisi juga akan berpengaruh terhadap kesehatan janin yang didukung.
Hamil atau tidak, peserta program rumatan methadone akan mendapatkan manfaat dari program tersebut jika dan hanya jika ada keterjaminan stabilitas dalam pemberian dosis. Tidak ada dosis pasti pada tiap-tiap orang. Masing-masing individu memiliki dosis penyesuaian yang unik. Jika Anda merasakan gejala-gejala putus obat segera hubungi konselor atau dokter untuk melakukan penyesuaian dosis. Jika ibu hamil yang sedang menjalani terapi mengalami gejala-gejala putus obat, maka bayi yang dikandungnya juga akan mengalami hal yang sama. Hal ini akan dapat menyebabkan komplikasi serius dan bahkan keguguran. Secara sekilas bisa dipahami bahwa semakin tinggi dosis yang dikonsumsi oleh ibu, maka akan semakin berat gejala putus obat yang akan dialami oleh bayi. Itulah mengapa, konselor atau dokter akan mendorong peserta program untuk selalu fokus pada kondisi tanpa gejala putus obat (sakauw) yang sesuai untuk dirinya sendiri dan tidak perlu memikirkan berapa jumlah dosis yang akan dia konsumsi. Pengurangan dosis terapi sangat tidak dianjurkan. Beberapa ibu hamil menanyakan kemungkinan pengurangan dosis methadone selama proses kehamilan. Namun hal ini tidak pernah dianjurkan. Secara medis, ibu hamil memang dapat dilakukan pengurangan dosis methadone dengan aman. Namun hal ini hanya bisa dilakukan pada pelayanan rumatan methadone yang menyediakan rawat inap. Dimana pada rawat inap tersebut akan dilakukan pemantauan secara ketat terhadap kondisi ibu dan janin. Hal ini untuk menghindari terjadinya gawat janin atau kondisi-kondisi yang dapat membahayakan kesehatan janin. Detoksikasi atau pengurangan dosis yang dilakukan sendiri amat sangat tidak dianjurkan. Karena hanya akan dapat menimbulkan gangguan dan memperbesar bahaya terhadap ibu dan bayi. Jarang terjadi adanya peningkatan kebutuhan dosis selama kehamilan. Pada trimester ketiga, jumlah aliran darah yang mengalir di tubuh ibu hamil mengalami peningkatan sebanyak dua kali lipat. Karenanya, dosis methadone kemungkinan juga akan mengalami peningkatan. Ini merupakan respon alamiah untuk menjaga agar bayi yang dikandung tidak menimbulkan gejala-gejala sakauw atau putus obat. Beberapa fakta justru menunjukkan bahwa peningkatan dosis methadone selama kehamilan justru akan meningkatkan tumbuh kembang bayi dan menurunkan resiko kehamilan prematur. Namun hal yang paling utama bukanlah bertujuan untuk menaikkan dosis, namun hal yang paling penting adalah menjaga stabilitas dosis yang dikonsumsi. sumber <www.dokterbagus.com> |
| Berikutnya > |
|---|











