Menu utama
| Halaman Depan |
| HIV & AIDS |
| HAM dan HIV/AIDS |
| Pencegahan bagi HIV+ |
| Infeksi Oportunistik |
| Pencarian Informasi |
Tepat waktu minum ARV
Di dukung oleh
Pencegahan bagi HIV+
|
Orang HIV+ berhak untuk memperoleh "... kehidupan seksual dan emosional yang penuh dan terpuaskan sama seperti orang lain" (Prinsip Denver, 1983). Pencegahan bagi orang yang positif bertujuan untuk menginformasikan orang yang hidup dengan HIV mengenai: 1. Bagaimana cara mencegah penularan HIV kepada orang lain. 2. Bagaimana mencegah terinfeksi penyakit menular seksual (seperti herpes, gonorrhea, klamidia, dsb) dan penyakit darah lainnya (seperti hepatitis C dan hepatitis B). Mengapa pencegahan bagi orang positif penting? Apa pentingnya bila orang lain itu sudah terinfeksi HIV? Pencegahan bagi orang positif membantu orang yang hidup dengan HIV untuk menghindari terinfeksi penyakit-penyakit lain (koinfeksi), terutama penyakit menular seksual (PMS). Penyakit-penyakit lain ini dapat memberi beban terhadap sistim kekebalan tubuh, terutama bila sistim ini sudah lemah akibat HIV. Selain itu, orang HIV+ dapat terinfeksi jenis lain HIV yang mungkin berbeda dengan jenis yang ia miliki. Beberapa “mutasiâ€Â (perubahan genetis) pada HIV dapat menyebabkan virus tersebut resisten terhadap beberapa obat HIV. Mutasi-mutasi resisten ini dapat ditularkan dari satu orang HIV+ ke orang HIV+ lain. Mengapa hal ini penting? Karena beberapa pengobatan HIV mungkin tidak efektif bahkan sebelum orang tersebut mengkonsumsinya. Pencegahan bagi orang positif juga penting untuk memperlambat penyebaran infeksi HIV baru. Apakah pencegahan bagi orang positif hanya mengenai perilaku seksual? Tidak. Pencegahan untuk orang positif menekankan pada dua bidang: * perilaku seksual, dan * penggunaan napza suntik Namun orang dengan HIV+ sebaiknya melakukan pencegahan umum terhadap segala jenis penyakit termasuk penyakit-penyakit kronis (bertahan lama), seperti diabetes dan hipertensi, serta penyakit-penyakit akut (bertahan untuk jangka waktu pendek) seperti flu atau cacar air – sama seperti orang HIV-negatif. Sangat penting bagi orang dengan HIV untuk menyadari bahwa segala pesan kesehatan/pencegahan bagi masyarakat umum mungkin menjadi lebih penting bagi mereka karena status kekebalan tubuh mereka. Apa yang tidak boleh dilakukan orang HIV+? 1. Orang HIV+ tidak boleh melakukan hubungan seks penetratif (oral, anal, maupun vaginal) yang tidak terlindungi dengan orang lain. Hal ini termasuk juga fisting, handballing, atau fingering. Selain itu, beberapa penelitian berpendapat bahwa laki-laki yang tidak sunat lebih mudah terinfeksi HIV daripada mereka yang sunat. Hal ini karena kulit luar alat kelamin menjadi akses tambahan bagi HIV untuk masuk ke dalam tubuh. Karenanya, laki-laki HIV+ yang belum disunat sebaiknya lebih berhati-hati dalam berhubungan seks, gunakan perlindungan untuk mencegah infeksi HIV ulang. 2. Orang dengan HIV+ yang menggunakan napza sebaiknya tidak berbagi alat napza (mis. jarum, pipa crack, sedotan cocaine, dsb) dengan orang lain. Penggunaan alat napza bergantian dapat mengandung sedikit darah dari orang lain yang mungkin terkontaminasi hepatitis B, hepatitis C, atau HIV. (PENTING: Orang positif sebaiknya membuat tato hanya dari ahli yang menggunakan jarum steril DAN wadah tinta yang bersih DAN tinta yang baru). Bagaimana orang HIV+ dapat membuat seks lebih aman? Penelitian menunjukkan bahwa viral load memainkan peran dalam seberapa tinggi kemungkinan seseorang menularkan HIV kepada orang lain melalui hubungan seks. Seseorang HIV+ dapat juga memperkecil kemungkinan penularan dengan menekan viral loadnya serendah mungkin dengan menggunakan pengobatan HIV. Namun penelitian lain juga menunjukkan bahwa viral load yang ditemukan dalam darah dapat berbeda dengan viral load dalam saluran dan cairan kelamin. Seringkali viral load dalam saluran kelamin dapat lebih tinggi daripada yang ditemukan dalam darah, dimana viral load HIV biasanya diukur. Karenanya tetap penting bagi orang dengan HIV+ untuk mempraktikkan seks aman dengan pasangannya. Viral load yang rendah atau "tidak terdeteksi" hanyalah lapisan pelindung lain dengan mengurangi resiko penularan. Hubungan seks dengan orang lain dapat dibuat lebih aman dengan cara-cara berikut: * Seks anal - Menggunakan kondom lateks dengan benar dengan pelicin berbasis air (misalnya K-Y Jelly) serta menggunakan kondom baru dengan pasangan yang berbeda dan setiap melakukan hubungan seks. * Seks vaginal - Menggunakan kondom lateks dengan benar dengan pelicin berbasis air (misalnya K-Y Jelly) serta menggunakan kondom baru dengan pasangan yang berbeda dan setiap melakukan hubungan seks. * Seks oral - menggunakan dental dam (sebidang plastik kecil yang dapat dibeli di toko spesialis atau toko penyedia alat dental) ATAU pembungkus plastik non-microwavable (dapat dibeli di supermarket) ATAU kondom lateks yang digunting dari bagian yang terbuka hingga ujung, untuk seks oral pada perempuan atau seks anal. Gunakan kondom lateks yang utuh untuk seks oral pada laki-laki. * Penetratif seks lain (fisting, handballing, atau fingering) – Gunakan sarung tangan lateks, dan bila perlu, pelicin berbasis air (seperti K-Y Jelly). * Alat seks atau lainnya - Bersihkan alat seks dengan sabun dan air setiap sehabis digunakan, dan tidak melakukan kegiatan seksual yang dapat mengakibatkan pendarahan. Bagaimana cara orang dengan HIV+ membuat napza "aman"? Seseorang HIV+ dapat membuat penggunaan napza lebih aman dengan melakukan hal tersebut di bawah: 1. Hanya menggunakan jarum bersih ATAU jarum yang telah dan akan digunakan oleh orang yang sama. 2. Menggunakan cotton swab dan alat napza bersih. 3. Sembunyikan alat napza sehingga orang lain tidak dapat menggunakannya. 4. Mengikuti program rehabilitasi untuk berhenti menggunakan napza sama sekali. Apakah hambatan bagi pencegahan untuk orang HIV+? Berikut adalah hambatan utama bagi pencegahan untuk orang dengan HIV+: 1. Pengungkapan kepada orang lain mengenai status HIV - Orang HIV+ dapat mempersiapkan diri untuk mengungkapkan status dengan melatih (sendiri atau dengan teman) cara-cara memberitahu orang lain mereka terinfeksi HIV. Anda dapat juga memperoleh ide cara pengungkapan dari konselor, kelompok dukungan, dan penyedia pelayanan kesehatan. 2. Akses terhadap kondom/dental dam/pelicin - Kondom mungkin sulit diperoleh bagi mereka yang sedang “hotâ€Â maka SELALU SEDIA dengan membeli kondom sehari sebelum anda memperkirakan akan melakukan seks. Anda juga dapat mempersiapkan diri dengan membeli kondom dan menyimpannya di dalam rumah. Kondom gratis biasanya dapat diperoleh dari dinas kesehatan setempat, klinik PMS atau organisasi berbasis komunitas yang bekerja dengan orang yang memiliki PMS atau HIV. 3. Akses terhadap jarum bersih untuk penggunaan napza suntik - Beberapa tempat menyediakan pelayanan “harm reductionâ€Â bagi pengguna napza suntik. Walaupun pelayanan seperti ini mungkin kontroversial, mereka menyediakan jarum steril, dan di beberapa tempat testing untuk PMS, bagi pengguna napza suntik. Bagaimana bila pasangan HIV-negatif saya secara tidak sengaja terpajan HIV saya? kepada mereka yang secara tidak sengaja terpajan HIV pada situasi yang tidak berhubungan dengan pekerjaan (PPP untuk pajanan berhubungan dengan pekerjaan, seperti luka tertusuk alat suntik pada petugas kesehatan, telah lama dianjurkan, dan telah diberikan juga di Indonesia).Pada tahun 2005, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat menganjurkan profilaksis pasca pajanan atau PPP ditawarkan PPP adalah terapi HIV yang digunakan orang yang HIV-negatif yang telah terpajan HIV. Bila digunakan pada waktu yang cepat, PPP dapat mencegah orang tersebut terinfeksi HIV. PPP mengharuskan orang tersebut memulai menggunakan obat HIV dalam waktu 72 jam (3 hari) sejak kemungkinan terjadinya pajanan HIV. Seseorang yang menggunakan PPP harus mengkonsumsi 2 atau 3 obat HIV selama paling tidak 1 bulan. Obat-obatan HIV ini seringkali menimbulkan efek samping yang mengakibatkan sulitnya meneruskan terapi. Namun, anda harus selalu konsultasi dengan dokter anda sebelum menghentikan terapi PPP. Di Indonesia PPP untuk situasi yang berhubungan dengan pekerjaan, khususnya pada petugas medis, telah banyak digunakan. Namun untuk masyarakat umum dan untuk situasi yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, PPP masih sangat jarang diberikan. |
|